Warung Kopi


Warung kopi kayaknya makin banyak, tiap gang dan pertigaan hampir selalu ada.

Hidup di kota yang tidak memiliki basis tanaman kopi tetapi warung kopi makin menjamur. Bojonegoro memiliki budaya ngopi, istilah untuk aktifitas minum kopi di warung disertai nongkrong selama beberapa saat. Dan tren ngopi di kota ini cukup kuat, buktinya warung kopi lebih mudah dicari daripada toko bumbu dapur.

Menurut salah satu teman yang aktif ngopi. Menikmati ngopi bukan hanya sebatas pada menyeruput kopi saja. Namun, suasana penat masalah seharian dan di saat-saat itu aktifitas sosialisasi dengan orang lain terjadi.

Dari penikmat ngopi amatiran hingga penikmat ngopi kelas berat. Bejibun orang akan memadati warung kopi dengan segala varian di dalamnya. Mulai mencari warung kopi yang ada wifinya, rasa kopi yang khas, suasana asri dengan alam, hingga warung yang penyajinya istimewa.

Ada salah satu metode penggalian informasi yang dipakai oleh salah satu teman yakni mendatangi warung kopi setempat. Mencari informasi tentang keadaan suatu wilayah yang pertama kali diburu adalah warung kopi terdekat dari wilayah itu. Baru kemudian tokoh-tokoh yang terkait.

Dia meyakini bahwa bahasan di warung kopi cenderung akan lebih natural tanpa embel-embel normative dan atran yang njlimet. Memang, di warung kopi membahas suatu tema tidak menunggu jadi pakar, hanya sekedar tahu saja cukup untuk unjuk gigi di sana.

Pernah juga menikmati sebuah warung kopi di daerah Lasem, di sana ada satu kegiatan yang dinamakan Mbolot yakni sebuah seni membatik rokok dengan lelet kopi yang diminum. Biasanya lelet dari kopi yang telah habis diminum diberi susu kental manis dan untuk mengurangi kadar airnya ditempeli tisu hingga kadar yang diperlukan.

Sebagai orang yang masih tergolong amatir dalam aktifitas ngopi, saya hanya bisa menikmati kopi yang penting berwarna hitam entah jika ditanya arabika atau robusta ya tidak tahu. Tingkatan roostingnya juga gak faham. He he he, asal ngopi dan bisa njagong saja.










Komentar

Postingan Populer