Berbudi dengan batu di jalan



Saat sekolah dulu guru pernah bercerita tentang amal baik. Bila tak kuat mbantu mbok ya nek enek watu ning dalam disingkrehke

Beramal sholeh bagi saya yang bergaji pas-pasan mungkin selama ini hanya bisa dilakukan dengan bertutur baik dan tersenyum saat bertemu dengan orang baru, meskipun baru pertama kali bertemu.

Lagi pula, dengan bergaji, setidaknya masih bisa membeli bahan pokok untuk hari ini dan besok. Dengan sedikit berfikir jernih maka akan bertemu dengan paham syukur. Namun, setidaknya membuka pikiran bahwa bagian rejeki ada yang lain selain pendapatan bersifat materialistik.

Laku diri yang baik pada diri sendiri mungkin akan terasa biasa bahwa setidaknya kita akan ope’n pada diri kita, masak punya uang sedikit saat sabun habis tidak beli sabun. Kan wangi itu pada saat tertentu menjadi sebuah kebutuhan.

Baik pada orang lain itu, bagi saya tidak hanya cukup dengan tidak ngganggu orang lain dengan kehadiran saya, lebih maju lagi kalua bisa dengan adanya saya setidaknya ada sedikit yang bisa saya lakukan bagi mereka.

Memberi makanan juga butuh biaya yang tidak sedikit, memberi derma uang apalagi. Entah sampai kapan bisa meniru mereka yang mampu melapangkan dada untuk berbagi sebagaimana itu.

Saya teringat pesan guru saat dibangku sekolah bahwa membuang batu atau duri di tengah jalan juga bagian dari baik social. Bahwa saat batu dan duri tidak disingkirkan segera maka bisa juga akan menimba orang lain.

Di kehidupan yang semakin apatis ini, beberapa kali terlihat sesuatu yang bakal menimpa orang lain dibiarkan saja. Hingga orang lain terjatuh pun dibiarkan begitu saja dan kadang baiknya, hanya ditengok dan menoleh lagi ke depan lalu jalan kembali.

Dan bagiku apatis, akan menular sebagaimana kebaikan yang akan menular.

Komentar

Postingan Populer