Putus Asa
Ya muqollibalqulub tsabbit qolbi ‘ala
dinika
Pernahkah teman mengalami rasa sukar yang terkadang
mengganggu pikiran dan bahkan membuat aktifitas yang kita rencanakan menjadi
kacau. Ada janji yang terlewatkan, atau aktifitas menjadi berat dan malas
gerak/ mager.
Dan itu, merupakan tanda konsentrasi kita menjadi
terganggu. Ibarat kita sedang nyetir motor di jalan raya, ada jalan berlubang,
lalu lubang yang dari jauh tidak terlihat sebagai lubang, dan duak tiba-tiba
ban depan kita melewatinya.
Juga terkadang kita seolah-olah sudah berhati-hati, eh
ada teman pengemudi dari belakang tiba-tiba zig-zag nyilang di depan dan kita
tergopoh-gopoh. Dan juga bisa pengemudi depan tanpa seign belok kanan memotong. Plash biuh, serrr rasanya jantung.
Masalah memang seperti itu, datang silih berganti. Dan
dengan daya konsentarsi yang terbatas. Seolah awan hitam di pelupuk mata, dunia
hacur sejadi-jadinya. Dan hari esok tidak akan terjadi.
Dan apa jadinya, dengan dasar putus asa diburulah
minuman keras, narkoba, mentato badannya, marah-marah tidak jelas, misuh-misuh,
dan bahkan bunuh diri.
Titik kritis itulah saat dimana seolah tak ada cahaya
itu, awan gelap yang menutupi matahari sedang berada di atas tenda pikiran
kita. Ibarat kata Gus Candra Malik saat mengisi Suluk Malemannya Habib Anis Awan
Gelap yang dibutuhkan adalah angin, lalu turunlah hujan dan kehidupan akan
mulai kembali, tumbuhan akan tumbuh.
Angin yang bisa diartikan bisikan-bisikan. Dan bolehlah
dijabarkan nasehat atau saran. Maka, saat masalah yang berat datang nasehat
yang benar yang dapat menuntun kita untuk membuka hujan yang membasahi hati dan
akal sehat kita.
Lanjutnya, kehidupan akan menjadi lebih baik kembali. Dan
sejatinya Allah kan juga tidak membuat cobaan bagi hambaNYA sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Dan itulah jalan untuk bisa menjadi dekat padaNYA.
Semoga kita menjadi hamba yang mawas diri.



Komentar
Posting Komentar